Komentar pembaca yang ditulis di Halaman Facebook Koran Toba akan kami pilih dan terbitkan di edisi cetak. Ikutilah facebook.com/korantoba dan Twitter @korantoba

Raja Uti diserahkan di puncak Pusuk Buhit


Kisah kesakralan puncak Pusuk Buhit. Setelah beratus tahun ditinggalkan orang tuanya di sana, Raja Uti muncul dalam tujuh rupa. Ia memakan tubuh manusia.

JARAR SIAHAAN

Bukan hanya orang Batak, tak sedikit warga dari luar Sumatera Utara, termasuk tokoh politik nasional, yang datang ke puncak Gunung Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir untuk berdoa. Mereka menganggap tempat itu suci.

Puncak tertinggi Gunung Pusuk Buhit menjelang malam, pukul 18.52. Di sinilah Raja Uti, yang tidak memiliki tulang pada tubuhnya, ditinggalkan dan diserahkan Guru Tatea Bulan kepada Mulajadi Nabolon. Foto: Jarar Siahaan

Pada 24 Februari 2013, Koran Toba menemui dua warga yang mengetahui kisah puncak Pusuk Buhit, Jatiur Limbong (63) dan Sediaman Limbong (32), di Parik Sabungan, Desa Sariman Rihit, Kecamatan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir, sekitar satu kilometer dari air terjun Batu Sawan yang keramat. Jatiur pun menuturkan kisah tersebut.

Zaman dulu Mulajadi Nabolon atau Tuhan Yang Maha Esa mengirimkan tujuh gadis dari kayangan ke Pusuk Buhit. Mereka mandi di Tala, sekitar 30 menit perjalanan kaki sebelum puncak tertinggi Pusuk Buhit. Guru Tatea Bulan, putra dari nenek moyang orang Batak, Si Raja Batak, melihat gadis-gadis itu saat mandi. Lalu, ia mengambil kain milik salah satu perempuan surgawi itu. Enam gadis kembali ke langit dan satu lagi tinggal di Pusuk Buhit, yang kemudian diperistri oleh Guru Tatea Bulan. Mereka bermukim di Parik Sabungan, di kaki Gunung Pusuk Buhit.

Dari perempuan suralaya itu, Guru Tatea Bulan memiliki sepuluh keturunan: lima putra dan lima putri. Putranya yang sulung lahir tidak normal, tidak seperti manusia lazimnya. Tubuhnya tidak memiliki tulang. Ukurannya kecil. Beribu-ribu tahun kemudian ia dikenal dengan nama Raja Uti.

Istri Guru Tatea Bulan sangat mencintai kesepuluh anaknya. Khusus kepada Raja Uti yang tidak normal, dia mesti menanak beras yang enak, agar bisa dimakan. Empat adik laki-laki Raja Uti pun cemburu, bahkan menginginkan abang mereka itu dibunuh, karena fisiknya tidak selayaknya manusia.

Ditekan oleh empat putranya, istri Guru Tatea Bulan akhirnya membawa Raja Uti ke lokasi air terjun Batu Sawan, sekitar satu kilometer dari kampung Parik Sabungan ke arah puncak gunung. Tidak jauh dari air terjun itu terdapat batu berliang, seperti mulut gua, di sanalah Raja Uti ditinggalkan.

Saban hari ibunya diam-diam mengantarkan nasi untuk Raja Uti di Batu Liang. Dia juga memandikan anaknya itu di air terjun Batu Sawan. Mengetahui hal itu, empat putranya yang lain kembali protes, "Kami kira Ibu sudah membuang Abang."

"Tidak bisa begitu, Nak. Berdosa," kata istri Guru Tatea Bulan kepada anak-anaknya.

Setelah bertahun-tahun, istri Guru Tatea Bulan kembali menaiki Gunung Pusuk Buhit untuk memberi Raja Uti makan. Dia kaget melihat Raja Uti terjatuh berguling-guling dari Batu Liang. Dia sedih, lalu berdoa, "Ompung Mulajadi Nabolon, saya tidak sanggup lagi melihat anakku tersiksa seperti ini selama hidupnya."

Akhirnya, dia dan suaminya, Guru Tatea Bulan, dengan berat hati membawa Raja Uti ke puncak tertinggi Gunung Pusuk Buhit. Selama sehari semalam mereka berdoa di puncak, dan tidur di sana. Sambil menangis, Guru Tatea Bulan dan istrinya berdoa, "Ompung, bagaimana pun jadinya kelak anak kami ini, Engkaulah yang tahu. Apakah dia akan jadi manusia yang normal, atau menjadi angin, kami pasrahkan dia ke dalam tangan-Mu."

Raja Uti pun diselimuti dan ditinggalkan sendirian di puncak tertinggi Pusuk Buhit.

Ratusan tahun berlalu, Mulajadi Nabolon menyampaikan kabar lewat suara-suara tak berwujud kepada warga di kaki Pusuk Buhit: "Ei, manisia, gellengmi ndang mate."

Empat saudara laki-laki Raja Uti telah beranak cucu. Warga kampung semakin banyak.
Suatu hari ada seorang kakek tak dikenal datang ke kampung, dan berkata, "Akulah anak yang dulu dibuang di puncak." Orang-orang lalu mengingat cerita, itulah Raja Uti, putra tertua Guru Tatea Bulan, yang semasa kecilnya tidak memiliki tulang.

Raja Uti dikenal sakti. Fisiknya bisa berubah-ubah dalam tujuh macam wujud. Namanya ada tujuh. Raja Uti adalah nama terakhirnya.

"Tidak bisa doa kalian sampai kepada Mulajadi Nabolon bila tidak melalui aku, karena aku tinggal di puncak Pusuk Buhit," titah Raja Uti kepada warga kampung.

Tapi permintaan Raja Uti sangat berat: ia mesti memakan tubuh manusia sebagai persembahan warga yang meminta sesuatu lewat doa-doa mereka kepada Mulajadi Nabolon. Warga lalu memohon kepadanya agar sesajen tubuh manusia itu digantikan dengan ternak kerbau. Sejak itulah puncak Gunung Pusuk Buhit menjadi keramat.

Bila penyakit atau musibah menimpa warga di perkampungan Limbong dan Sagala zaman dahulu, terang Jatiur Limbong, warga mesti menyiapkan kerbau, horbo laelae, sebagai syarat permintaan doa kepada Mulajadi Nabolon melalui Raja Uti.

"Itu tempat yang sakral. Jangan datang ke Pusuk Buhit jika untuk bersikap atau berkata-kata tak senonoh," pesan Jatiur Limbong.

Syarat dasar untuk berdoa di puncak Pusuk Buhit, katanya: jeruk purut, daun sirih, dan telur ayam masing-masing tujuh. Bila mampu, orang bisa juga membawa ayam putih atau kambing putih.

Sediaman Limbong mengatakan, tahun lalu ia memugar batu sakral di puncak Pusuk Buhit. Batu itu dipercayai sebagai tempat Guru Tatea Bulan dan istrinya berdoa kepada Mulajadi Nabolon dan meninggalkan anak sulung mereka yang sakti, Raja Uti. [www.korantoba.com]

Dari Aceh ke Pusuk Buhit

Dituduh bukan marga Pasaribu, Wakil Bupati Aceh Tenggara, Haji Ali Basrah Pasaribu, S.Pd, MM, 66 tahun, pergi berdoa ke Gunung Pusuk Buhit untuk mencari tahu asal-usulnya. Doanya terkabul saat itu juga.

HAYUN GULTOM | KORAN TOBA

Haji Ali Basrah Pasaribu memiliki kisah tersendiri tentang Pusuk Buhit. Ia menuturkan pengalamannya itu saat datang kedua kalinya ke Pusuk Buhit pada 7 Januari 2013 lalu. Ia datang pertama kali ke Pusuk Buhit pada 18 Januari 2012 saat masih sebagai calon Wakil Bupati. Meski bermarga Pasaribu, Haji Ali Basrah Pasaribu tidak mengetahui betul tentang asal-usulnya, karena kakeknya sudah merantau sejak usia remaja. Yang ia tahu hanya sampai batas orang tuanya.

wakil bupati aceh pasaribu samosir
Wakil Bupati Aceh Tenggara, Haji Ali Basrah Pasaribu (duduk, tengah), dan keluarganya (berdiri) di rumah dinas Bupati Samosir. Foto: Hayun Gultom

Saat pertarungan politik pemilukada ia sempat dituding bukan marga Pasaribu oleh lawan politiknya. Karena itu ia pun mencoba pergi ke Pusuk Buhit. Di sana ia berdoa dan berharap ia bisa mengetahui tentang asal-usulnya. Haji Ali Basrah Pasaribu datang bersama beberapa keluarganya keturunan kakeknya.

Setelah berdoa dan ziarah di puncak Pusuk Buhit, mereka masih singgah di situs parsaktian yang berada sekitar 300 meter dari perkampungan si Raja Batak Sigulanti. Di tempat itu mereka bertemu dengan Dayan Pasaribu, Kacabjari Pangururan, bersama istrinya Hotmauli Simorangkir. Saat itu sudah menjelang pukul 19.00.

Kedatangan Dayan Pasaribu ke Parsaktian itu juga tidak direncanakan sebelumnya. Saat pulang dari Desa Sihusapi, Kecamatan Simanindo sekitar pukul 17.00, Dayan bersama istrinya berbincang-bincang di dalam mobil. "Sepertinya agak malas langsung pulang ke rumah, jalan-jalanlah dulu," kata Dayan. Mereka pun pergi ke arah Sianjurmulamula, dan akhirnya tiba di Parsaktian.

Saat bertemu dengan rombongan Haji Ali Basrah Pasaribu, sebagai warga Samosir, Dayan menanyakan dari mana asal rombongan itu. "Dari Aceh, Pak," kata Haji Ali Basrah Pasaribu menjawab Dayan. Selanjutnya mereka berkenalan.

Ternyata sama-sama marga Pasaribu. Kemudian Dayan menanyakan siapa nama oppungnya. "Nama kakekku Japaranginan Pasaribu," kata Haji Ali Basrah Pasaribu.

Kemudian Dayan mencoba menghubungi saudaranya di kampung melalui telepon selulernya, di Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara bernama Pukka Pasaribu. Tapi Pukka Pasaribu tidak mengenal nama itu. Kemudian Pukka Pasaribu mengatakan agar Dayan menghubungi seorang boru Pasaribu di Medan yang berusia sekitar 80 tahun.

Boru Pasaribu itu ternyata putri Japaranginan Pasaribu, kakak dari orang tua Haji Ali Basrah Pasaribu, berasal dari Desa Silantom, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara.

Bincang-bincang Haji Ali Basrah Pasaribu dengan Dayan Pasaribu semakin berlanjut. Apa yang diharapkan dan didoakan Haji Ali Basrah Pasaribu di puncak gunung itu langsung terkabul di kaki Pusuk Buhit. Dia sudah tahu asal-usulnya.

Setelah itu komunikasi Haji Ali Basrah Pasaribu dengan Dayan dalam hal kekeluargaan semakin akrab. Haji Ali Basrah Pasaribu berencana berkunjung ke kampung asalnya di Silantom bersama semua keluarga kakeknya. Menurut Pukka Pasaribu yang dihubungi Koran Toba melalui telepon selulernya 26 Februari 2013, makam orang tua Japaranginan masih ada di Silantom.

Kedatangan Wakil Bupati Aceh Tenggara Haji Ali Basrah Pasaribu kedua kalinya ke Pusuk Buhit untuk ziarah kembali sebagai bentuk terima kasih. Sepulang dari tempat sakral orang Batak itu, rombongannya dijamu makan malam oleh Bupati Samosir Ir. Mangindar Simbolon, MM.

Selain sesama pejabat, Mangindar Simbolon juga memiliki hubungan keluarga dengan marga Pasaribu, karena mertua Mangindar adalah boru Pasaribu yang malam itu juga hadir dalam acara makan malam. Saudara-saudara Wakil Bupati Aceh Tenggara Haji Ali Basrah Pasaribu tampak akrab dengan mertua Bupati Mangindar. [www.korantoba.com]

Jonni Sihotang: jangan munafik!

"Tarutung dikenal dengan Salib Kasih. Dairi dengan Wisata Iman. Kenapa kita tidak bikin Wisata Ritual Pusuk Buhit di Samosir."

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Samosir Jonni Sihotang blakblakan mengakui bahwa dirinya tiap tahun berdoa di puncak tertinggi gunung yang sakral Pusuk Buhit. Mengapit daun sirih, ia menangkupkan kedua telapak tangannya, lalu menyebut nama Mulajadi Nabolon.

DPRD Samosir Jonni Sihotang
Jonni Sihotang, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Samosir. Foto: Jarar Siahaan

"Bukan karena menyembah berhala saya berangkat ke Pusuk Buhit. Saya pikir itulah tempat yang paling suci di Samosir untuk tempat saya berdoa," kata Jonni Sihotang yang diwawancarai Koran Toba di Pangururan, 24 Februari 2013.

Jonni setiap awal tahun mendaki puncak Gunung Pusuk Buhit dengan mobilnya yang bergardan dua. Biasanya ia berangkat pagi hari. Tidak sendirian, ia mengajak istri, anggota keluarga, dan manajer perusahaannya.

Tahun 2003 adalah kali pertama Jonni berdoa di puncak tertinggi Pusuk Buhit—di mana Raja Uti, putra sulung Guru Tatea Bulan, diserahkan kepada Mulajadi Nabolon—yang sakral itu. Ia membawa sesajen berupa daun sirih, telur, jeruk purut, dan ayam. Kala itu ia takjub melihat keajaiban sinar matahari yang hanya menyuar puncak gunung.

"Saya tidak malu mengutarakan hal itu. Kalaupun orang bilang saya 'parbegu', terserah mereka," katanya.

Kedua telapak tangannya menyembah sembari menjepit daun sirih. Ia menyebut nenek moyangnya dan Ompung Mulajadi Nabolon. Isi doanya diucapkan dengan suara lantang, bukan dirisikkan, sehingga dapat didengar orang lain yang diajaknya. Doa-doanya selalu berkaitan dengan usaha-usaha bisnisnya dan kesehatan bagi keluarganya. Dalam kaitan sebagai politikus di DPRD Samosir, "Tidak, saya tidak pernah berdoa di sana untuk urusan politik."

Ia sering berangkat dengan rombongan sebanyak empat mobil. "Makanya, saya setiap membeli mobil selalu yang dua gardan. Memang saya sudah salah, karena saya membawa mobil sampai ke puncak sekali." Seharusnya ke puncak Gunung Pusuk Buhit, katanya, cukup berjalan kaki, demi menjaga kesucian tempat tersebut.

Menurut Jonni, ia merasa nyaman dan yakin saat berdoa di puncak Pusuk Buhit, "Bukan karena ada makhluk gaib atau ular besar di sana. Tapi, karena di tempat itulah orang Batak pertama. Arti sakral tidak negatif. Suci. Saya yakin, Tuhan Yang Maha Kuasa mendengar doa saya dari puncak Pusuk Buhit, dan hampir semua yang saya minta selalu terwujud."

"Jadi, kenapa kita munafik! Kenapa kita takut memberikan anggaran untuk membangun situs-situs di Pusuk Buhit. Karena kemunafikan kita, kita takut dituduh sebagai penyembah berhala. Saya bingung melihat teman-teman kita ini. Kenapa kita bilang itu salah sementara kita lakukan. Berarti yang mendominasi pola pikir adalah kemunafikan."

Tahun 1992 ketika masih bekerja perusahaan pertambangan batu bara di Pulau Kalimantan, Jonni Sihotang memiliki bapak angkat seorang kiai, yang juga dikenal sebagai penasihat spiritual Presiden Soeharto pada masa itu. Ia mengambil sebatang korek api, lalu bertanya kepada Jonni, "Apakah kamu percaya bahwa korek ini Tuhan?"

Jonni menjawab tidak percaya. Kiai itu kemudian berkata kepada Jonni dengan mengutip ucapan Yesus dalam ayat Alkitab: "Sebesar biji sesawi saja kamu memiliki iman, kamu dapat memerintahkan gunung untuk pindah."

Sejak itulah Jonni mulai berpikir bahwa kebesaran Tuhan tidak hanya bersemayam dalam gereja, masjid, atau rumah ibadah. Tuhan ada di mana-mana.

"Kalau sama pemahaman saya dengan semua orang tentang [kesucian] Pusuk Buhit, mereka juga sudah saya ajak ke sana untuk memohon kepada Tuhan Yesus," kata Jonni Sihotang.

"Apa yang saya minta lewat doa di Pusuk Buhit biasanya terwujud. Saya harus mengutarakan ini kepada siapa pun. Saya tidak mau munafik. Saya tidak pernah sembunyi-sembunyi ke sana. Bahkan dalam rapat DPRD, saya blakblakan membuka itu. Saya tidak malu. Seujung rambut pun saya tidak pernah menyembunyikan apa yang sudah saya dapatkan setelah berdoa di Pusuk Buhit."

Jonni berpendapat, seharusnya seluruh komponen masyarakat di Kabupaten Samosir, terutama pemerintah daerah, benar-benar menyadari bahwa Samosir adalah kawasan tujuan wisata. Mereka tidak boleh rikuh untuk mempromosikan objek-objek wisata bersifat ritus yang ada di Samosir, termasuk Pusuk Buhit dan agama asli orang Batak, Parmalim.

"Tarutung dikenal dengan Salib Kasih. Dairi dikenal dengan Wisata Iman. Kenapa kita tidak bikin Wisata Ritual Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir," katanya. "Kenapa kita harus munafik? Buka! Saya juga mengatakan hal ini dalam rapat-rapat."

Bagi Jonni, Batak yang sesungguhnya tidak terlalu terlihat lagi pada zaman sekarang, karena sudah banyak orang Batak yang terpengaruh budaya luar.

Tuaman Sagala: setelah berdoa di Pusuk Buhit

Dalam wawancara pada kesempatan yang sama, anggota DPRD Kabupaten Samosir lainnya, Tuaman Sagala, pun tidak menampik puncak Gunung Pusuk Buhit sebagai tempat yang sakral. Meskipun ia mengaku belum pernah sampai ke puncak tertinggi, Tuaman mengisahkan pengalaman orang tuanya di Pusuk Buhit: barulah setelah orang tuanya pergi berdoa di puncak gunung itu, Tuaman lahir. Sebelum ia lahir, semua saudara tuanya adalah perempuan. Ia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya.

Tuaman Sagala juga menjelaskan, sekitar lima tahun lalu rohaniwan Katolik Mgr. A.B. Antonius Sinaga, O.F.M. Cap., yang dikenal sebagai Uskup Agung Medan, pernah berpidato di tempat terbuka di Kabupaten Samosir bahwa nenek moyang kita dulu sudah punya anutan kepercayaan, dan puncak Pusuk Buhit adalah tempat mereka berdoa. Tidak ada yang salah dengan itu. Mulajadi Nabolon adalah pencipta langit dan bumi, dan itulah Tuhan dalam sebutan modern saat ini.

Dalam ritual-ritual adat Batak Toba, lanjutnya, Uskup Agung A.B. Sinaga juga sering terlihat memegang jeruk purut, membakar kemenyan, dan menyebut Ompung Mulajadi Nabolon.

Bila rohaniwan Kristen sekelas Uskup Agung saja tidak menganggap Pusuk Buhit sebagai tempat berhala, jadi, "Kenapa kita harus malu atau ragu-ragu. Kita jangan munafik!" kata Jonni Sihotang. [www.korantoba.com]

Bagian ke-2 dari 10 halaman Liputan Khusus Pusuk Buhit dan "Nabi" Raja Uti pada edisi cetak Koran Toba

Pusuk Buhit dan 'Nabi' Raja Uti

JARAR SIAHAAN — Pusuk Buhit, gunung keramat bagi orang Batak, bukan cuma bernilai sejarah, melainkan juga rohaniah. Kita tak perlu berlebihan mengultuskan kemistikannya, tapi jangan pula kita enggan mengakui kehadirannya.

Gunung Pusuk Buhit foto toba
Gunung Pusuk Buhit tampak dari depan kantor Koran Toba di Pangururan, Samosir. Foto: Jarar Siahaan

Daya mistis Pusuk Buhit, gunung keramat di Kabupaten Samosir dengan ketinggian kira-kira 1.900 meter di atas permukaan laut, telah melegenda ke seantero dunia. Konon di kaki gunung inilah, tepatnya di Parik Sabungan, Desa Sariman Rihit, Kecamatan Sianjur Mulamula, orang Batak pertama berkampung dan beranak pinak.

Dipercayai, di puncak Pusuk Buhit-lah cucu paling tua Si Raja Batak, Raja Uti, dikembalikan oleh orang tuanya, Guru Tatea Bulan, kepada Mulajadi Nabolon. Raja Uti, yang tubuhnya tak bertulang ketika kecil, muncul beratus tahun kemudian dengan kesaktiannya. Kini, melalui penguasa puncak Pusuk Buhit itu para peziarah memanjatkan doa kepada Mulajadi Nabolon, Sang Pencipta.

Sudah bukan rahasia umum bahwa banyak orang, termasuk politikus parlemen dan pejabat pemerintah, menaiki puncak Gunung Pusuk Buhit dan menyembah Mulajadi Nabolon. Antara lain, kata anggota DPRD Kabupaten Samosir Tuaman Sagala kepada Koran Toba, "Mantan Gubernur Syamsul Arifin, mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih bersama istrinya yang orang Jepang itu sudah beberapa kali ke sana, Akbar Tandjung." Rekan sejawat Tuaman di DPRD Samosir, Jonni Sihotang, terang-terangan mengakui rajin berdoa di puncak Pusuk Buhit, dan permintaannya selalu terkabul.

Penganut agama-agama mutakhir, khususnya agama langit seperti Kristen dan Islam, mungkin akan sangat sulit menerima keberadaan Mulajadi Nabolon dan "nabi"-Nya di Tanah Batak, Raja Uti. Namun, sebaliknya, pemeluk agama bumi seperti Hindu, Taoisme, Zoroasterisme, dan Parmalim tampaknya akan lebih mudah "mengamininya", karena religi-religi tersebut lebih terbuka menakrifkan sosok Sang Khalik.

Koran Toba dengan paham "kebenaran itu relatif", seperti termuat dalam edisi perdana, dan dengan pikiran terbuka menyajikan liputan khusus Pusuk Buhit ini ke tangan anda, pembaca yang budiman. Kami menorehkan wawancara dan hasil pandangan mata, juga rasa.

Edisi Pusuk Buhit kami kerjakan setelah menapaki Gunung Pusuk Buhit pada 17 Februari 2013. Kami tiba di puncak tertingginya dan bermalam di sana. Tiga kru Koran Toba—Hayun Gultom, Abidan Simbolon, dan saya sendiri—bersama aktivis LSM Dian P. Sinaga juga menuliskan catatan-catatan pribadi dalam edisi ini.

Hayun Gultom menulis berita tentang pengalaman Wakil Bupati Aceh Tenggara, Haji Ali Basrah Pasaribu, yang berdoa di puncak Pusuk Buhit sebelum mengikuti pilkada dan ketika ia hendak mencari tahu kampung kakeknya di Tanah Batak. Ada juga tulisan saya mengenai riwayat Raja Uti, "Sang Nabi Batak" yang bersinggasana di puncak gunung keramat Pusuk Buhit. Foto-foto Pusuk Buhit dan situs-situsnya disertakan di halaman berwarna.

Semuanya kami suguhkan kepada pembaca Koran Toba dengan satu niat: agar kita orang Batak Toba, teristimewa penduduk Kabupaten Samosir, tidak abai akan, apalagi melenyapkan, sejarah diri kita sendiri yang bermula dari Sianjur Mulamula. [www.korantoba.com]

*) Artikel pertama dari 10 halaman Liputan Khusus Pusuk Buhit dan "Nabi" Raja Uti, edisi cetak Koran Toba

Sabulan, Benget Situmorang, dan itak gurgur

Koran Toba edisi cetak terbaru mulai beredar hari ini, 32 halaman penuh berita-berita lokal Tanah Batak, antara lain:

Koran Toba terbaru edisi cetak
Dwimingguan Koran Toba edisi cetak terbaru, 32 halaman, terbit di Pangururan.

  • 7 halaman liputan khusus Desa Sabulan, Kecamatan Sitiotio, salah satu kawasan yang sakral di Kabupaten Samosir: "Siapa berani bersumpah di Sabulan".
  • Wawancara eksklusif Koran Toba dengan ayah kandung Benget Situmorang, pembunuh dan pemutilasi tubuh istrinya. Ternyata ketika SMP pun Benget sudah nakal, bahkan pernah menusuk anak kapolsek. Ayahnya sendiri preman di Jakarta sebelum akhirnya bertobat. Ayahnya menceritakan perubahan nama Benget, juga agamanya yang berganti setelah pulang dari Padang, Sumatera Barat.
  • Gadis remaja di Balige, Toba Samosir, menulis banyak "status galau" di FB-nya tentang pacarnya, termasuk status berupa niat dan rencananya untuk mengakhiri riwayat hidupnya. Dan benar, ia pun bunuh diri.
  • "Berdoa lebih baik daripada menabur itak gurgur".

Selain di Kabupaten Samosir dan Kabupaten Toba Samosir, Koran Toba edisi cetak sudah dapat dibeli di Kota Pematangsiantar, di kios-kios koran. Dalam waktu dekat kami akan hadir di Kota Medan.

Bila ada yang berminat untuk memasarkan Koran Toba di kota-kota lain, silakan hubungi nomor layanan pelanggan Koran Toba: 0853-6286-5939 (Abi).

Koran Toba, koran kampung yang tidak kampungan.

Festival Danau Toba 2013

Dulu namanya Pesta Danau Toba, sekarang menjadi Festival Danau Toba. Akan dilaksanakan secara akbar pada 19 Juni hingga 13 Juli 2013 dengan tema "Arga do Bona ni Pinasa". Menurut Bupati Samosir Ir. Mangindar Simbolon, M.M, kata "festival" memang lebih tepat daripada kata "pesta". Karena dalam kegiatan itu kebanyakan diisi dengan acara-acara lomba, seperti lomba renang, lomba solu, tinju, dan berbagai jenis olahraga serta budaya.

Meskipun Kabupaten Samosir yang menjadi tuan rumah dalam acara Festival Danau Toba nanti, namun acara juga dilakukan di beberapa kabupaten lain di kawasan Danau Toba. Waktu pelaksanaan Festival Danau Toba sudah pasti yaitu 29 Juni acara pembukaan, dan ditutup pada 13 Juli.

Pembukaan di Objek Wisata Batu Hoda, Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Selain itu acara pembukaan juga digelar di Open Stage Tuktuk dan Open Stage Pangururan. Acara juga dilakukan di Pasir Putih Parbaba dan Pantai Pangururan tempat dilaksanakannya olahraga air.

Dan sebelum hari "H" sudah ada juga lomba yang dilaksanakan misalnya lomba lagu Batak yang digelar di Jakarta, selambat-lambatnya bulan Maret. Tapi acara final lomba lagu Batak itu akan digelar di Samosir. Ditangani langsung oleh Toba Dream dibawah pimpinan musisi Vicky Sianipar, sedangkan panitia hanya menyediakan hadiah sebesar Rp100 juta. Pesertanya tidak harus orang Batak, siapa saja bisa, termasuk dari luar negeri.

Menghadapi acara akbar ini akan diadakan pembinaan dan penyuluhan terhadap semua pemilik dan manajer hotel yang ada di kawasan Danau Toba. Yang akan disampaikan adalah bagaimana persiapan hotel dan restoran sebelum Festival Danau Toba 2013.

Diperkirakan hotel tidak mampu menampung ramainya pengunjung selama Festival Danau Toba berlangsung. Maka panitia juga menyediakan home stay. Panitia akan melakukan pendataan beberapa rumah penduduk di tempat-tempat tertentu yang bersedia disewakan pada pengunjung. Setelah itu diimbau adar dilakukan penataan sekitar lingkungan rumah.

Selain home stay juga disediakan camp di beberapa tempat yang tidak ada rumah penduduk untuk disewakan. Camp dimaksud akan bervariasi, mulai dari yang sederhana hingga yang memiliki fasilitas lux setingkat hotel bintang tiga. Tentunya pengusaha tenda akan berkoordinasi dengan pemilik lahan mengenai pembagian hasil.

Kebutuhan Home Stay dan Camp sangat menunjang pada penghasilan warga selama Festival Danau Toba berlangsung, khususnya di kawasan yang tidak ada hotel. Kesediaan makanan di lokasi camp dan home stay juga jadi perhatian panitia. Direncanakan ada kelompok yang dibimbing oleh panitia untuk menjual makanan di tiap tempat yang ada home stay dan camp.

Dalam acara Festival Danau Toba nanti juga akan hadir kru film Mutiara dari Toba. Mereka sekaligus menjual kaset dengan harga Rp 25 ribu per keping. Kru film yang distradarai oleh Amirullah Harahap dan produser, William Atapary dengan pemeran, Anggie Rahma Ulfha. Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir adalah adalah salah satu lokasi suting mereka.

Seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kabupaten Samosir ikut serta menjadi panitia lokal.

Padatnya kendaraan pengunjung pada hari "H" yang akan menimbulkan kemacetan di Samosir, Bupati Samosir Ir Mangindar Simbolon, MM mengatakan, pengunjung dari luar Samosir yang hanya untuk menjalani situs-situs dan menonton acara pembukaan Festival Danau Toba akan lebih baik tidak membawa kendaraan menyeberang ke Samosir. Dengan banyaknya kendaraan yang akan memasuki Kabupaten Samosir selama Festival Danau Toba sehingga diperkirakan akan terjadi kelangkaan bahan bakar di Samosir. Sebab SPBU hanya ada satu di Kabupaten Samosir yaitu di Pangururan. Sehingga kendaran yang masuk ke Kabupaten Samosir sebaiknya terlebih dahulu mengisi penuh tangki bensin mobilnya untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan BBM di Samosir.

Kalau selama pukul ini 17.00, bus angkutan umum sudah tidak beroperasi lagi di Samosir, tapi selama acara Festival Danau Toba panitia akan mengorganisasi angkutan lokal. Panitia harus menyediakan angkutan yang terjamin dari setiap lokasi kegiatan. Hal ini dikatakan Bupati Samosir kepada panitia saat mengadakan rapat di kantor Bupati. [www.korantoba.com]