Selain di Kabupaten Samosir, Toba Samosir, dan Humbang Hasundutan, Koran Toba juga telah dijual di kios koran di Pematangsiantar dan Parapat. Berlangganan, SMS ke bagian pemasaran 08116111785

Wawancara ayah Benget Situmorang

Benget Situmorang tetap Humuntal Sarbarita.

Kemarin, 30 September 2013, menurut berita pers nasional, sidang pembacaan putusan oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur terhadap Benget Situmorang, pembunuh istrinya sendiri dengan cara mutilasi, ditunda, karena kondisi terdakwa yang sakit. Tubuhnya sangat kurus dan lemah.

Koran Toba edisi cetak pernah menurunkan berita pada Maret 2013 berupa wawancara khusus dengan ayah kandung Benget Situmorang di Kabupaten Samosir. Ternyata Benget pernah berpindah agama menjadi pemeluk Islam. Walau nakal sejak kecil, Benget sangat hormat kepada pihak tulang (paman)-nya. Ayahnya sendiri, Jaronggit Situmorang, adalah mantan preman di Jakarta.

HAYUN GULTOM — Laki-laki 63 tahun itu masih tampak kekar. Ia duduk di perapian sambil menggeser-geser kayu bakar. Pada Maret 2013 sore Koran Toba menemui Jaronggit Situmorang, bapak kandung Benget Situmorang (36) yang diberitakan membunuh dan memotong-motong tubuh istrinya di Jakarta, awal Maret lalu. Jaronggit tinggal di Dusun Sitobu, Desa Garoga, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

foto Benget Situmorang & ayah Jaronggit Situmorang
Foto atas: Benget Situmorang (viva.co.id). Foto bawah: Jaronggit Situmorang, ayah Benget, di Samosir (Hayun Gultom/Koran Toba)

"Horas, Amangboru!" sapa Koran Toba.

"Bah, ai lakkam do i, songon na toppu ho muncul," jawab Jaronggit Situmorang.

Semula Koran Toba menduga Jaronggit baru kembali dari Jakarta. Ternyata ia tidak jadi berangkat ke Jakarta karena saran dari keluarganya untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Sesungguhnya ia ingin berangkat ke Jakarta untuk menjemput kedua cucunya, anak Benget.

"Ai pahoppu i do, asa niboan nian tu son. Anggo bapana i, dang adong be sihataan tu si. Jala ikkon jaloon na do hukuman hobbar tu niulana," kata Jaronggit Situmorang.

Jaronggit menceritakan tentang anaknya Benget yang sejak kecil sudah sering berkelahi. Jaronggit juga menceritakan tentang dirinya yang dulu hidup di dunia pasaran dan berkali-kali keluar masuk penjara. Tahun 70-an, di Jakarta ia dikenal dengan nama Amir Jonggi Ringgo Star, sebagai pengaman bioskop-bioskop di Jakarta Timur.

Sejak kecil, Jaronggit sudah berusaha agar anak sulungnya Benget, dengan nama lengkap Benget Tumpal Parulian Situmorang, tidak meniru jejaknya hidup di dunia preman. Ia ingin anaknya bisa seperti arti namanya itu. Benget (sabar), Tumpal (mahkota), dan Parulian (tempat yang lebih baik).

Tapi saat baru lahir, orang tua Jaronggit dan orang tua dari ibu yang melahirkan Benget sempat menyebut nama untuk Benget adalah Humuntal Sarbarita. Ternyata menurut Jaronggit, nama itulah yang lebih sesuai dengan perilaku anaknya itu. "Sai boha pe binahen, diganti pe goarna, tong do songon goar naparjolo i, Humuntal Sarbarita," kata Jaronggit.

Saat masih duduk di sekolah dasar, Benget sudah sering berkelahi dengan temannya. Saat SMP ia pernah berkelahi dengan anak seorang kapolsek dan anak warga Tomok. Dua-duanya ditusuk dengan pisau. "Loja do iba holan napature-turehon persoalan, ala holan namarbadai do baon. So adong biarna, dang parduli ise pe taho," kata Jaronggit.

Bukan sekali-dua kali kalangan orang tua di kampungnya mendatangi Jaronggit sambil membawa anaknya yang terluka karena berkelahi dengan Benget. Jaronggit kerap menerima laporan dari guru Benget.

Dari SMP Ambarita, Benget dipindahkan ke Tarutung, Tapanuli Utara. Tamat dari SMP, Benget bersekolah di Pematangsiantar di salah satu STM di Jalan Asahan. "Jadi, mulai sian nagelleng do baon holan namarbada, emosina natimboan, jala ndang adong biarna," kata Jaronggit.

Belum sempat menyelesaikan sekolahnya dari STM, Benget sudah melarikan diri dari Siantar karena berkelahi. Saat itu orang tuanya juga tidak tahu ke mana Benget kabur. Beberapa tahun kemudian Benget pulang ke rumah orang tuanya di Sitobu. Kepada orang tuanya ia mengaku berada di Padang setelah cabut dari sekolah.

Benget sangat berubah sepulang dari Padang. Jaronggi melihat anaknya itu tidak lagi seperti biasanya, ada sesuatu yang aneh. Benget tidak mau memakan masakan orang tuanya. Nasinya ia masak sendiri. Sebelum makan, ia selalu membersihkan piring dan gelas terlebih dahulu walaupun tidak kotor. Bahkan untuk memasak nasi ia harus mencuci periuk luar dan dalam. Pantat periuk ia gosokkan ke tanah yang berpasir sebelum digunakan memasak nasi. Sesekali Jaronggit melihat Benget sembahyang memakai sajadah.

Suatu ketika Jaronggit berbincang-bincang dengan anaknya itu. Benget menceritakan apa yang ia kerjakan selama di Padang. Benget menceritakan kisah pahitnya pertama tiba di Padang, tidak memiliki saudara dan tempat tinggal. Ia tidur di masjid dan akhirnya diasuh oleh seorang alim ulama.

"Ninna ibana ma tu ahu, 'Nga dianggap halaki ahu anakna.' Dipatudu ibana ma tu ahu Alquran nagelleng. 'Jadi asa diboto ho, Bapa, matutung pe jabu, matutung dia, anggo on ndang matutung on,' ninna ibana ma tu ahu," kata Jaronggit. "Jadi anggo on, baon, ndang binoto be manang na songon dia jurus ni on."

Melihat tingkah Benget sejak kecil, Jaronggit sudah pasrah bila anaknya itu terjun ke dunia preman. Tidak bisa lagi untuk diarahkan agar sesuai dengan namanya, Benget Tumpal Parulian.

Selanjutnya Bengget merantau ke Jakarta. Awalnya ia menumpang di rumah keluarga. Tidak lama kemudian, Jaronggit sudah mendengar nama anaknya Benget Situmorang terjun sebagai preman. Menurut Jaronggit, kabar yang ia terima dari keluarga dan temannya di Jakarta, di terminal Jati Negara anaknya dinamai Ucok Benget.

Yang ia sayangkan adalah kenapa emosi kepremanannya itu ia lakukan juga kepada perempuan. "Memang molo sanga emosi on, tung manang aha pe ndang peduli. Alai seorang pareman ibana, sasaran emosi nai ndang tepat. Ai molo pareman, tu istrina do mabiar. Jala molo ndang mampu mengalah, dang boi dibendung emosi haparemanon na i, bah tumagon disiranghon," kata Jaronggit Situmorang.

Jaronggit mengatakan, ia sudah pasrah dan tidak akan menangisi Benget jika dihukum seberat apa pun sesuai undang-undang yang berlaku. Karena perbuatannya itu tidak bisa diampuni. Bahkan kalaupun undang-undang harus menjatuhkan hukum mati, ia pun sudah pasrah. Tapi kalau itu yang terjadi, dihukum mati, sebagai bapak, ia akan meminta untuk bisa menatap wajah anaknya, memberinya makanan untuk yang terakhir, dan mengucapkan satu kata kepadanya.

Benget tidak memiliki kelainan pikiran, tapi emosinya luar biasa. Kalau pada tulang-nya (keluarga dari ibunya), Benget sangat hormat. Ia tidak pernah melawan kepada marga Rumahorbo, pamannya. "Anggo tu angka tulangna, nahormatan on, nasopanan. Tung disonggaki pe ndang olo magalo," kata Jaronggit.

Nama yang sempat dikatakan ompung-nya untuk Benget kecil adalah Humuntal Sarbarita. Arti "humuntal" dalam kamus bahasa Batak "tanah/bumi saat gempa berguncang, bergetar, goyang". Sedangkan "sarbarita" adalah "berita tersebar ke mana-mana."

"Di tataring dope, nga pittor dibahen oppungna goarna Humuntal Sarbarita," kata Jaronggit Situmorang.

Dahulu, saat Jaronggit masih bergelut di dunia pasaran, mengatur angkutan umum di Siantar, ia pergi menjenguk anak buahnya, seorang sopir, yang baru tertimpa musibah kebakaran. Joronggit pergi bersama anak dan istrinya. Jaronggit bertemu dengan amangboru-nya di rumah sopir itu.

"Bah, ai ise goar ni on?" kata amangboru-nya menyebut anak Jaronggit.

"Humuntal Sarbarita," jawab Jaronggit.

Amangboru-nya yang mengetahui persis siapa Jaronggit mengatakan kalau nama itu tidak cocok. "Bapana nga humuntal tu san, humuntal di son, lamu humuntal ma annon on," kata amangboru-nya.

"Attong ise do goarna?" kata Jaronggit.

Lalu amangboru-nya itu menjawab, "Benget Tumpal Parulian, ima goarna." Sampai ia dibaptis di Kabupaten Samosir, namanya pun menjadi Benget Tumpal Parulian Situmorang.

Setelah kasus mutilasi tubuh istri Benget ini, Jaronggit mengatakan, ternyata perilaku Benget lebih sesuai dengan namanya semula, Humuntal Sarbarita. Sebab, perilaku jahatnya telah diberitakan di koran dan televisi.

"Dung songon on namasa on, huingotma goarna na naparjolo i. Ido hape ibana, hape nga diganti goarna gabe si Benget, maksud asa unang songon iba do ibana. Hape gabe ahu do na benget, ndang ibana," kata Jaronggit Situmorang. [www.korantoba.com]

Opera Batak Serasi

RAMSES SIMANJUNTAK — Keberadaan opera pada tahun 1960-an sangat menarik minat masyarakat Batak Toba. Opera Batak atau sandiwara yang diiringi nyanyian dan musik Batak pada masa itu menjadi primadona hiburan masyarakat. Selain menghibur, juga mampu menguras emosi penonton, bahkan tak jarang penonton sampai menitikkan air mata karena larut dalam kesedihan, sesuai dengan alur cerita atau naskah yang dilakonkan. Sehingga tak heran kalau pada masa itu, setiap pementasan opera, penontonnya pasti membeludak.

Seiring berjalannya waktu, saat ini pementasan opera Batak semakin jarang terlihat, bahkan bisa dikatakan hampir lenyap. Padahal pementasan opera Batak merupakan salah satu wahana untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan Batak Toba. Miris rasanya melihat cerita-cerita menarik dalam opera Batak seperti Siboru Tumbaga, Piso Sumalim, Sibursok Mangalandong, dan lain-lain akan lenyap pada generasi berikutnya. Sangat disayangkan memang, terlebih lagi pesan moral yang terkandung dalam cerita opera itu lebih kental, karena dilakonkan secara langsung di atas panggung.

Terkait hal itu, Koran Toba menjumpai salah satu bekas pemilik dan pemain opera, yaitu Mateus Sitanggang, di rumahnya di Sabasaba, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir. Menurut penuturannya, sebelum menjadi pemilik sebuah grup opera, dulunya dia adalah pemain di grup opera Batak Serindo. Karena suatu hal, bersama dua orang temannya, mereka membentuk grup opera sendiri yang dinamai Opera Serasi. Pada tahun 1968, dia menjadi pemilik resmi grup opera Batak Serasi.

Setelah menjadi pemilik, dia merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjaga kelangsungan hidup grup opera tersebut. Dengan membawa peralatan pentas seperti papan, tiang pentas, tali, dan kain untuk layar pentas, serta seng yang jumlahnya cukup banyak untuk memagar pentas, kru sekitar 60 orang, serta naskah cerita untuk ditunjukkan kepada pihak kantor camat sebagai salah satu isyarat manggung, mereka melakukan pementasan di berbagai daerah, antara lain Barus, Panei Tonga, Tanah Jawa, Perdagangan, Kisaran, Tanah Karo, Sidikalang, Laguboti, Tarutung, Siborongborong, Sibolga, dan bahkan sampai ke Padangsidimpuan.

Pada setiap pementasan, penonton selalu membeludak. Karcis dengan harga Rp30 bisa terjual sebanyak 15 blok atau 1.500 lembar. Dari seluruh daerah yang mereka jalani, Mateus Sitanggang mengakui, daerah yang cukup banyak penontonnya adalah Laguboti, Tarutung, dan Siborongborong.

Berbagai cerita opera mereka pentaskan. Jumlahnya sekitar 40-an. Sebagian besar ditulis oleh Tilhang Gultom, seorang seniman Batak yang sangat terkenal. Menurut Sitanggang, naskah cerita itu banyak diangkat berdasarkan kisah nyata, seperti Ardin dan Tiomina, Guru Saman, dan lain-lain.

Berbagai suka dan duka dialami oleh Mateus Sitanggang bersama grupnya. Keributan saat pementasan adalah hal yang paling sering terjadi. Biasanya keributan dipicu oleh ulah sekelompok pemuda atau preman kampung terhadap penonton lainnya. Lalu ada yang ngotot masuk tanpa karcis. Ada juga penolakan naskah cerita, dikarenakan naskah tersebut diangkat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di daerah tersebut.

Grup opera Batak Serasi bisa berpentas selama 3–4 minggu di suatu daerah. Sudah tentu membutuhkan biaya yang cukup besar untuk menghidupi kru sebanyak 60 orang yang terdiri dari penjaga pintu masuk, penjual karcis, tukang tarik layar, tukang masak, pemain musik, pemeran lakon, dan petugas keamanan. Kebanyakan anggota datang sendiri karena ingin bergabung.

Sementara untuk honor anggota, kakek dengan 5 orang anak dan 14 cucu itu membagikannya kepada anggota dari hasil penjualan karcis, setelah dipotong biaya konsumsi, sewa rumah, dan biaya pajak hiburan, yang katanya cukup memberatkan, karena di beberapa daerah bisa mencapai 30% dari hasil penjualan karcis yang distempel oleh petugas kantor camat.

Perjalanan Opera Serasi berakhir pada tahun 1982. Penyebabnya adalah keributan pada saat pentas di Kolang. Saat itu seorang anggota Serasi ditusuk oleh seorang pemuda yang berasal dari daerah tersebut. Meski dia tidak sampai tewas, anggota Serasi tidak terima dengan penusukan itu, lalu menusuk pemuda tersebut hingga tewas. Seorang anggotanya dipenjara selama 1 tahun 4 bulan akibat penusukan itu. Setelah kejadian itu, laki-laki berusia 80 tahun itu memutuskan untuk membubarkan Opera Serasi dan menjual seluruh peralatan pentas kepada seorang marga Banjarnahor dari Bakara.

Ketika Koran Toba menanyakan naskah pementasan yang paling berkesan buat Sitanggang, laki-laki yang masih tampak sehat dan energik itu menyebutkan salah satu, "Ardin dan Tiomina", yang diangkat berdasarkan kisah nyata dari Tarutung.

Opera Batak kisah cinta Ardin-Tiomina

Di suatu desa di Tarutung tersebutlah seorang wanita yang bernama Tiomina. Suatu waktu, Tiomina sedang berjalan-jalan menikmati indahnya alam. Sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba beberapa orang pemuda datang menggoda dan mengganggunya. Tiomina berteriak minta tolong. Teriakan itu didengar oleh seorang pemuda yang bernama Ardin. Lalu Ardin menolong Tiomina, dan mengusir para pemuda tersebut. Dari pertemuan itu, timbullah benih cinta di hati Tiomina dan Ardin.

Percintaan mereka tidak berjalan mulus, karena mendapat tantangan dari orang tua Tiomina. Jauh sebelumnya, orang tua Tiomina sudah mempertunangkan Tiomina dengan anak namborunya yang berasal dari Medan. Itu artinya Tiomina harus kawin dengan anak namborunya. Meskipun Tiomina menolak, orang tuanya tetap memaksa. Dengan berat hati, akhirnya Tiomina menuruti kemauan orang tuanya.

Beberapa hari sebelum hari pernikahan, Tiomina pergi menjumpai Ardin sambil membawa sebuah kain sarung panjang. Dengan tersedu-sedu, Tiomina memberi tahu kalau dia akan menikah dengan anak namborunya. Sambil menangis, Tiomina memberikan ujung kain sarung panjang kepada Ardin, sementara ujung yang satunya dipegangnya. Perlahan, dia melepaskan kain sarung tersebut dan mengucapkan selamat tinggal kepada Ardin. Karena diliputi kesedihan yang dalam, Ardin tidak mampu mengucap sepatah kata pun.

Meski sudah menikah dengan anak namborunya, Tiomina tidak bisa melupakan Ardin. Terkadang pada saat tidur, Tiomina sering mengigau dan menyebut-nyebut nama Ardin. Hal itu diketahui oleh suaminya dan akhirnya marah besar pada Tiomina, sehingga dia dipukuli dan diusir suaminya. Akhirnya, Tiomina pulang ke rumah orang tuanya. Suaminya tidak mau menjemput Tiomina. Karena merasa sakit akibat dipukuli suaminya, tidak berapa lama Tiomina meninggal dunia di rumah orang tuanya.

Setelah dikuburkan, Ardin datang ke pusaranya sambil membawa kain sarung panjang pemberian Tiomina dulu. Ardin meletakkan kain sarung panjang di pusara itu sambil menangis dalam waktu yang cukup lama. Entah apa yang telah merasuki pikirannya, Ardin mengambil kain sarung panjang dari atas pusara, kemudian bunuh diri tepat di dekat pusara Tiomina. [www.korantoba.com]

Kutuk leluhur Simanjuntak

Berita tiga halaman penuh: Kutuk leluhur Simanjuntak, Jambar pun mesti empat, dan Karena kisah kerbau khayali. Perkara tersohor tentang marga Simanjuntak diulas dalam Koran Toba edisi cetak terbaru dari sudut pandang berbeda, yang belum pernah diterbitkan media mana pun. Kutipannya:

Kutuk leluhur Simanjuntak
Sembilan narasumber dari keempat puak marga Simanjuntak menolak kutuk turun-temurun moyang mereka, Sobosihon boru Sihotang, dan pengotak-ngotakan keturunan Raja Marsundung.

marga Simanjuntak Parhorbo Jolo-Pudi
Satu dari tiga halaman berita marga Simanjuntak di Koran Toba edisi cetak

Ketua Simanjuntak Siopat Sada Ama (Sipasada) Bonapasogit, Wasir Simanjuntak, mengatakan, "Kalau saya berdosa, tapi anak saya menolak kutuk saya, dosa saya, maka anak saya tidak kena. Itu kutuk. Kalau betul begitu ceritanya, itu adalah nenek moyang yang tidak baik. Tulislah itu!"

Jambar pun mesti empat
Perseteruan dua faksi marga Simanjuntak tak murni hanya karena laknat leluhur. Diduga ditunggangi kepentingan politik.

Narasumber Koran Toba menceritakan pelbagai upaya yang pernah ditempuh sejak tahun 1964 untuk merukunkan kedua klan besar Simanjuntak, yang oleh masyarakat Batak sering dijuluki Simanjuntak Parhorbo Pudi dan Simanjuntak Parhorbo Jolo.

Hezekiel Simanjuntak (68 tahun), dari puak Hutabulu, menambahkan, ada sekutu tertentu di kalangan marga Simanjuntak yang sangat membenci klan Parsuratan. Tapi, tujuan sebenarnya, kata dia, "Meraih jabatan, supaya didukung," saat pemilihan kepala daerah.

Isi hukuman adat oleh Panitia Turunan Tuan Somanimbil (PTTS) itu: keturunan Somba Debata dan Tuan Marruji takkan menghadiri undangan adat ketiga-Simanjuntak, dan jambar dalam adat harus tetap satu kepada seluruh Simanjuntak.

Mencium kemungkinan terjadinya konflik dalam pesta Hutagaol, PTTS meminta bantuan Komandan Raider, bermarga Siregar, dari markas TNI di Onansampang untuk mengamankan. Di pihak lain, tokoh ketiga-Simanjuntak datang dari Tarutung membawa Polisi Militer. "Sangat tegang waktu itu, tahun 1964," kata Ompu Ranap, mengenang.

Karena kisah kerbau khayali
Bahkan media sekelas majalah Tempo dulu pernah memberitakan percekcokan turun-temurun antar-Simanjuntak yang konon berpangkal dari seekor kerbau betina.

"Mana ada sawah 500 tahun yang lewat! Irigasi belum ada. Yang ada cuma eme darat," kata S.M. Simanjuntak (77 tahun) a.k.a. Ompu Ranap, saksi sejarah perseteruan marga Simanjuntak, kepada Koran Toba.

Katanya, orang Batak Toba baru mengenal teknik pembajakan sawah dengan kerbau setelah penjajah Belanda mendirikan sekolah pertanian bernama Lambou di Laguboti. Belanda-lah yang pertama kali mengajarkan metode pertanian kepada orang Batak. [www.korantoba.com]

Baca berita selengkapnya sepanjang tiga halaman penuh di edisi cetak Koran Toba terbitan September 2013. Hubungi bagian pemasaran lewat SMS di nomor HP 08116111785.

Suami Kristen, istri Islam

JARAR SIAHAAN — Bahtera hidup suami istri Batara Tambunan dan Suzila Devylina Natsir mirip dengan kisah Cahyo Fadhol dan Diana, dua sejoli dalam film Cinta Tapi Beda. Mereka langka, karena di Indonesia pernikahan dua insan berbeda iman adalah anomali.

Di Tanah Batak, yang sebagian besar penduduknya umat Kristen, hampir mustahil menemukan laki bini beragama campuran Kristen-Islam. Satu dari hampir-tidak-ada itu adalah Batara (50) dan Suzila (47), warga Desa Tambunan, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir. Batara, yang telah dikeluarkan dari Gereja HKBP, diinterviu Koran Toba beberapa waktu lalu.

foto patung Si Raja Batak dan Batara Tambunan
Batara Tambunan, S.Si. di depan patung Siraja Batak di kompleks museum T.B. Silalahi Center di Desa Pagar Batu, Toba Samosir. Foto: Jarar Siahaan/Koran Toba

"Saya menganggap diri saya masih jemaat HKBP, tetapi HKBP melihat saya bukan lagi jemaat. Gereja HKBP telah memecat saya selama 25 tahun sampai sekarang, karena saya menikahi perempuan muslim," kata sarjana Universitas Riau, Pekanbaru, ini.

Orang tua dan sanak saudara Batara Tambunan adalah pemeluk Kristen Protestan dan terdaftar sebagai jemaat HKBP. Anak-anaknya juga pengikut Yesus Kristus, tapi tidak sejak mereka kanak-kanak selazimnya yang berlaku di gereja. Ketiga anaknya, "Tidak dibaptis ketika kecil, tapi setelah mereka dewasa. Ya, cari dulu agamanya," katanya.

Ia dan istrinya, yang berasal dari keluarga muslim, tidak mengotot agar anak-anaknya menjadi Kristen atau Islam. Mereka diberi kebebasan berpikir, belajar, dan memilih religi masing-masing setelah cukup dewasa.

Salah satu anaknya yang berusia 21 tahun, mahasiswa, baru pada tahun 2013 ini resmi menjadi Nasrani, setelah mengikuti pembaptisan di Gereja HKBP. Tatkala anaknya menerima sakramen baptisan kudus di gereja, istrinya yang muslimah itu pun hadir menyaksikan.

Sejak awal menikah, istrinya sudah terbiasa hadir di gereja, seperti untuk mengikuti undangan pemberkatan pernikahan tetangga atau handai tolan. Di rumah mereka di Desa Tambunan, ketiga anak Batara sering melihatnya berdoa secara Kristen, dan saban hari memperhatikan ibu mereka bersembahyang secara Islam. Batara merelakan anak-anaknya untuk mempelajari doktrin Kristen dan Islam, hingga mereka sudah cukup yakin untuk menganut salah satu agama sesuai kemauan hati sendiri.

Andai kata pun ada anaknya yang memilih agama selain Kristen dan Islam, misalnya Buddha atau Parmalim, Batara takkan melarang. "Itu, kan, urusan dia dengan Tuhan-nya. Sama seperti saya tidak memaksa istri saya menjadi Kristen."

Toleransi suami istri ini bukan sekadar basa-basi. Suzila, contohnya, ikut sibuk menyiapkan kue saat Natal, dan Batara mengantar istrinya itu ke masjid pada bulan Ramadan. "Saya ikut mengantar zakat fitrah ke masjid di Tambunan," kata lelaki yang sehari-hari aktif sebagai Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Balige ini.

Pasangan suami istri berbeda agama ini bisa hidup harmonis karena komitmen mereka sejak menikah untuk menghormati perbedaan iman. Bagi Batara Tambunan, istrinya adalah sosok muslimah yang berani, karena dia berkeras hati mempersuami seorang lelaki Kristen. Padahal, sesuai hukum fikih, perempuan Islam tidak diperbolehkan menikah dengan lelaki nonmuslim.

Tantangan justru datang dari kerabat dan rekan Batara yang beragama Kristen. Banyak yang mendesaknya untuk secara paksa memurtadkan istrinya dari Islam ke Kristen, namun ia bergeming. Ia berkukuh bahwa ihwal bertuhan adalah perkara personal tiap insan dan tidak boleh dicampuri oleh siapa pun, termasuk suami atau orang tua.

Tapi, tentu saja, kemenduaan Tuhan dalam rumah tangga Batara Tambunan ini tidak sah menurut hukum Indonesia. Sebab itulah sampai sekarang mereka tidak punya akta pernikahan Catatan Sipil. "Kan, tidak bisa diurus," katanya.

Pengalaman hidup Batara, dalam menilai kualitas atau kebaikan seseorang, ia tidak berpegang pada apa agamanya atau seberapa saleh ia beribadah. Banyak orang yang tak pernah absen berdoa ke gereja atau masjid tetapi perilakunya tetap jahat, seperti pejabat-pejabat yang taat beragama dan sekaligus taat juga melakukan korupsi. Mereka menamengi diri dengan agama untuk berkamuflase, bermuka dua, menutupi sisi buruk mereka yang sesungguhnya.

"Kemunafikan! Dia korupsi, dia menyeleweng, tetapi dia ke gereja. Bagaimana dia bisa berdiri di gereja, apakah tidak bertentangan dengan batinnya sendiri?"

Diceritakan, ia pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan sepuluh orang Jerman, laki-laki dan perempuan, di kota turis Parapat. Ia kaget mendapati mereka semua tidak menganut agama apa pun. "Kami bukan orang Kristen. Orang tua kami pun bukan. Kami tidak beragama, tapi kami percaya kepada Tuhan. Yang terpenting adalah saling mengasihi."

Jujur saja, kata Batara, hampir setiap hari Ahad, "Saya paling malas ke gereja." Ia mengaku hanya sekali dalam sekian tahun mengikuti kebaktian Minggu. Ia takut mengucapkan kesaksian dan doa-doa kristiani di dalam gereja, karena dalam praktik sehari-hari sikap hidupnya tidak sungguh-sungguh mencerminkan kesalehan Yesus.

Ia lalu mencontohkan salah satu hipokrisi jemaat. Tidak sedikit orang Kristen yang tetap menunjukkan sikap bermusuhan bahkan di dalam gereja sendiri. Di sakramen marulaon na badia Paskah, misalnya, ada umat yang tidak rela menjabat tangan orang lain yang tak disukainya. Padahal, kata Batara Tambunan mengutip Doa Bapa Kami, "Ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Itulah mengapa saya bilang munafik." [www.korantoba.com]

Baca berita lain di rubrik Agama dalam edisi cetak Koran Toba, satu halaman penuh liputan dari Kabupaten Samosir: Nasrani Tanpa Salib

Cenayang pusaka Situmorang

JARAR SIAHAAN — Seorang bekas guru kerasukan arwah Tambun Mulia Sihombing, nenek moyang marga Situmorang Lumbannahor. Diduga cuma muslihat untuk mencuri dua patung keramat. Sempat berikan nomor togel.

Kampung sunyi sepi. Banyak warga tengah beribadah di gereja. Minggu, sekitar pukul 10.30, Juli 2013, di Huta Pamoparan Pasaran, Desa Pasaran I, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, mobil Kijang Innova berpelat B 1318 BVC meluncur perlahan. Di dalamnya tiga lelaki dan dua perempuan: Benny Siregar dan istrinya, Tiurmawati boru Sihombing; Hermanto Siregar dan istrinya, Lianni boru Sebayang; dan Adventus Sinaga.

patung manuk Situmorang di Samosir pusaka Tambun Mulia
Pusaka patung manuk-manuk yang sempat dicuri, milik marga Situmorang Lumbannahor di Samosir, yang diwariskan nenek moyang mereka, Tambun Mulia boru Sihombing Lumbantoruan dari Sipultak, Tapanuli Utara. Warga desa sering mendengar ayam-ayaman ini berkokok. Foto: Koran Toba

Kelimanya turun dari mobil. Reynold Situmorang (27), penduduk setempat, dari kejauhan memantau mereka. Ia menaruh curiga, terlebih saat mereka mengitari rumah papan milik Ompu Dohon boru Lumbanraja, inang tua Reynold, yang terkunci rapat. Hanya satu orang yang dikenalinya, Adventus, yang juga penduduk Desa Pasaran I, tapi empat lainnya benar-benar asing.

Ompu Dohon sedang berada di Jakarta. Dia menitip dua patung kayu berbentuk ayam kepada Reynold. Bukan sembarang patung: benda pusaka Situmorang yang dikeramatkan selama 15 generasi. Itulah manuk-manuk yang, menurut banyak saksi di kampung Situmorang, kerap berkokok!

Reynold menghampiri kelima pendatang itu. Sejurus bertegur sapa dan berjabat tangan, tiba-tiba seorang dari mereka, Boru Sihombing, kesurupan. Dia memegangi tangan Reynold. Menurut Reynold kepada Koran Toba yang mewawancarainya pada Agustus 2013, Boru Sihombing berkata kepadanya dalam bahasa Batak Toba, "Sayalah nenekmu, Tambun Mulia Sihombing, dari Sipultak. Di mana kausimpan ayam-ayamanku itu?"

Mendengar nama nenek moyangnya, Tambun Mulia, spontan saja Reynold menyapanya dengan Ompung. "Kalau mau melihat, ayo, ada di rumahku," jawab Reynold, lalu mengajak mereka ke rumahnya, beberapa meter di belakang rumah Ompu Dohon yang terkunci. Ia ingat pesan inang tua-nya: bila ada orang dari pihak marga Sihombing atau Situmorang yang ingin melihat manuk-manuk, jangan tolak, mesti kauperlihatkan.

Sesampai di sana, Reynold menggelar tikar untuk lapik duduk kelima tamunya. Tapi, Boru Sihombing malah marah, "Saya tidak mau duduk di situ!" Kemudian Reynold meminta bantuan salah satu tamunya, Adventus Sinaga, untuk mengangkat dua patung ayam, manuk-manuk, dari bilik tidur ke ruang tengah. Begitu benda pusaka tersebut diletakkan, segera Boru Sihombing memeluknya, laksana seorang ibu memeluk anaknya yang telah lama tak dilihatnya.

"Kau, kan, tahu, ini milikku," kata Boru Sihombing, yang konon masih dirasuki roh Tambun Mulia Sihombing.

"Kenapa jadi milikmu?" sahut Reynold.

"Ini mesti saya bawa ke Medan, karena kalian tidak merawatnya dengan baik."

"Begini saja, Ompung, memang wadah manuk-manuk ini kurang tepat. Ajarilah kami bagaimana baiknya. Lagi pula saya tidak bisa seorang diri memberikannya kepadamu, Ompung. Tunggulah dulu saya panggil saudara-saudaraku [Situmorang] yang lain. Tidak jauh dari sini ada seorang adik dari pemiliknya, biar saya jemput ke sini."

"Tidak usah. Jika kauberitahukan, nanti kalian jadi bertengkar."

Boru Sihombing berkeras hati akan membawa kedua pahatan ayam itu. Dia pun memamah daun sirih di mulutnya, kemudian melumurkannya pada manuk-manuk. Dia meminta sebutir telur dari suaminya, Benny Siregar, dan memberikannya kepada Reynold.

Saat itu Hermanto Siregar dan istrinya, Lianni Sebayang, masih tetap berdiri di pintu, seakan mengawasi kalau-kalau ada orang lain yang datang. "Di pintu dua orang. Hendak lari, saya takut," aku Reynold. Meski terpojok, ia tidak mengizinkan mereka membawa manuk-manuk. "Tidak bisa kaubawa itu, Ompung!"

Akan tetapi, hasandaran Tambun Mulia tak ambil pusing walaupun sudah dilarang. Kembali dia mengambil telur, kali ini tujuh butir, dan menaruhnya di atas piring. Digepitnya sehelai sirih. Tiba-tiba dia menangis. Air matanya yang bercucuran ditadah dengan daun itu, lalu diteteskan melewati rongga pada punggung manuk-manuk. Sesudahnya, daun sirih diwalakkan di piring.

Piring berisi tujuh telur dan sirih tadi dititipkannya kepada Reynold. "Ini saja berikan kepada Situmorang, dan katakan kalau Boru Tambun Mulia sudah membawa manuk-manuk," kata Boru Sihombing. Kemudian dia menyuruh Reynold memasukkan satu telur lain, yang pertama diberikannya, ke dalam satu pot bunga, dan berpesan supaya tidak dicampur dengan ketujuh telur.

Duduk berhadap-hadapan, mantan guru di Medan itu mengatakan dirinya ingin memberkahi Reynold. "Apakah kau merokok?" tanyanya.

"Iya, Ompung," jawab Reynold.

Tiba-tiba dia kesambet dengan roh lain, bukan lagi arwah Tambun Mulia. "Ompunta si Raja Lontung," kata Benny Siregar, memaksudkan yang barusan merasuki istrinya.

"Dohot do ho marsurat-surat?" tanya "si pendatang" baru.

"Martogel maksudnya, Lae," imbuh Benny.

"Tak pernah main togel, tapi bermimpi pernah," jawab Reynold.

"Tinggal berapa batang lagi rokokmu?" tanya sang arwah.

"Enam," kata Reynold.

"Ima buat annon. Tarhilala tioponmu," kata yang disebut-sebut sebagai atma si Raja Lontung.

Tanpa banyak basa-basi lagi, perempuan itu langsung mencabut kedua patung-ayam kayu dari lapaknya. "Ayo!" serunya kepada empat komplotannya.

Mereka keluar membawa manuk-manuk. Tempatnya, rangka kayu persegi empat, turut dimasukkan ke dalam mobil. Mereka pun angkat kaki.

Berasa seperti baru lepas dari bius hipnosis, Reynold bergegas menemui warga di warung kopi yang cuma sepelemparan batu jaraknya, dan menceritakan bahwa pusaka mereka telah digondol oleh orang tak dikenal. Geram, para lelaki yang kebanyakan bermarga Situmorang itu langsung bergerak untuk mengejar kawanan "maling".

Keluar hanya ratusan meter dari kampung, mereka melihat mobil tadi terparkir di tepi jalan raya di Desa Pasaran I. Gerombolan itu rupanya sedang singgah di rumah salah satu kerabat, namboru Hermanto Siregar, yaitu Ompu Lando boru Siregar, yang adalah juga mertua Adventus Sinaga.

Ompu Lando mengakui bahwa paraman-nya, Hermanto; menantunya, Adventus; dan tiga orang lainnya mampir di rumahnya siang hari itu dengan membawa manuk-manuk. Dia melihat kedua patung kayu terletak di ruang tamu. "Saya datang dari belakang [dapur]. 'Apa ini? Dari mana kalian?' kataku," ucap Ompu Lando kepada Koran Toba yang menemuinya, Agustus 2013.

Tidak berapa lama kemudian massa dari Huta Pamoparan Pasaran datang ke rumah itu dengan berteriak marah-marah dan menuduh lima sekawan telah mencuri pusaka nenek moyang Situmorang. Mencegah jangan sampai warga bertindak brutal terhadap kelima "pencuri", seseorang menelepon petugas Polsek Onanrunggu, yang juga meliputi wilayah hukum Kecamatan Nainggolan. Polisi datang, lalu membawa para tersangka dan barang bukti manuk-manuk ke markas.

Namun begitu, warga berang karena polisi melepas dua orang dari kelima tersangka. "Menurut polisi, kedua orang itu hanya sebagai saksi mata," kata Reynold. "Memang Hermanto Siregar dan Lianni Sebayang cuma berdiri di pintu, tidak ada bicara sedikit pun, tapi mobil itu milik Hermanto. Jadi, saya bilang sama polisi, seharusnya kedua orang itu juga mesti ditahan."

Reynold Situmorang mengatakan Boru Sihombing yang kesurupan itu mengenakan selendang putih dan baju kaus putih. Dia senantiasa mengunyah sirih. Bercak-bercak merah kinangan mengotori selendangnya. Kena benar sebagai cenayang.

Nama lengkap perempuan hasandaran Tambun Mulia itu di KTP, ujar Reynold, adalah Tiurmawati Sihombing, S.E., S.Pd., dengan dua titel kesarjanaan. "Ai ido s-p-d nai, sarjana padatu-datuhon," katanya. [www.korantoba.com]

Catatan redaksi Koran Toba:
Selengkapnya empat halaman penuh berita tentang benda pusaka marga Situmorang Lumbannahor, yang konon diwariskan oleh leluhur mereka, Tambun Mulia boru Sihombing Lumbantoruan, bisa anda baca di Koran Toba edisi cetak:
  • Cenayang pusaka Situmorang
  • Wawancara arwah Tambun Mulia
  • Ayam-ayam keramat Rp120 juta
  • Seret! Bakar!
  • Satu asli, dua imitasi

Sejarah Borunaitang

HAYUN GULTOM — Atting-atting so dohonon, ansimun so sibolaon. Dang na mangarigati bulung, mangaribaki bulung gaol. Dang na mangarikari hinalungun, paboahon hinadangol.

Seorang perempuan tua menggunakan penutup kepala kain berwarna kuning sedang berdiri menghadap ke Danau Toba. Di depannya terletak sirih di atas altar yang terbuat dari keramik. Sesekali ia mendongak kepala sambil mengangkat tangannya yang memegang ranting beringin. Ia meletakkan ranting beringin itu di atas altar, kemudian ia duduk di hadapan beberapa orang dan menyampaikan sesuatu.

Koran Toba
Koran Toba edisi cetak

Sore itu, Agustus 2013, Koran Toba mendekati orang-orang yang sedang berada di beringin si Borunaitang. Rombongan yang menggunakan dua mobil pribadi itu datang dari Medan dan Sidikalang. "Marga Siahaan," kata seorang laki-laki setengah baya. Ia baru saja keluar dari mobil untuk menyimpan jeriken berisi air Danau Toba. Menurutnya, air itu berkhasiat karena diambil dari lokasi beringin si Borunaitang.

Koran Toba menanyakan kepada Siahaan tentang sejarah lokasi itu, tapi ia mengaku tidak tahu dan mengarahkan agar menanyai ibu yang bertutup kepala kuning, "Dang huboto anggo sejarah ni on Lae, inang an namartopi nahunik ido namangatusi," katanya.

Rombongan itu sudah selesai melakukan ritual, tinggal hanya berkemas-kemas hendak pulang. Beberapa anak mereka memegang botol plastik dan jeriken berisi air danau. Sedang dua ibu-ibu membawa ranting pohon beringin. Setelah keluar dari gerbang lokasi itu mereka memasukkan air dan ranting beringin itu ke mobil.

"Horas, Inang!" sapa Koran Toba kepada ibu yang bertopi kuning. Setelah kenalan singkat, koran ini mencoba menanyakan tentang sejarah beringin. Awalnya ia menolak karena mereka hendak pulang, dan ceritanya sangat panjang, padahal rombongan yang ia bawa sudah masuk ke dalam mobil.

"Ganjang do cerita ni on, Ito, hape hami nga naeng mulak," katanya. Tapi ia seolah tidak bisa menolak untuk tidak menjawab pertanyaan siapa si Borunaitang. Akhirnya ibu yang bernama Netty boru Sihombing (60) itu bersedia duduk di kedai yang ada di dekat lokasi itu, dan menceritakan sekilas tentang Borunaitang. "Alai saotik ma hupatorang ate, alana ganjang hian do on, hape naeng mulak nama hami tu Sidikalang," katanya.

Menurut Netty Sihombing, si Borunaitang lahir kembar bersama Inarnaiborngin, satu tali pusat. "Godang do jolma na silinduat, alai asing do pusot na. Alai anggo Namboru on..." Ia tiba-tiba berhenti dan mengatakan, "Santabi, Namboru da! Santabi, Namboru!" sambil mengarah ke danau. "Sada do pusot nasida dohot kembarna on, ima goarna Inarnaiborngin." Kembali ia mengatakan "santabi, Namboru" dengan nada yang agak panjang. "Ido umbahen dang tarsirang halahon."

Kedua bersaudara itu tidak terpisahkan, katanya. Setelah beranjak dewasa mereka melakukan hubungan terlarang. Oleh keinginan keluarga, si Borunaitang dinikahkan dengan marga Sinaga. Tapi Borunaitang membunuh suaminya itu karena pikirannya tetap tertuju pada kembarannya, Inarnaiborngin. Kemudian Sinaga menuntut dan sesuai aturan adat Borunaitang harus diberi hukuman. Hukuman waktu itu adalah dijatuhkan ke jurang, atau dibakar ke api, atau ditenggelamkan ke danau. Tapi si Borunaitang tidak bisa ditenggelamkan, melainkan ia yang pergi sendiri ke danau. Ia melakukannya dengan terpaksa dan menangis karena harus meninggalkan Inarnaiborngin dan anaknya yang baru lahir yaitu Situnggarnageduk.

Menurut Netty Sihombing, si Borunaitang berambut panjang dan berparas cantik. Sehingga, perempuan yang dirasuki oleh si Borunaitang haruslah yang berambut panjang. Dan ciri-cirinya kalau arwahnya masuk ke tubuh seseorang, seseorang itu langsung membelah tengah rambutnya yang panjang menggunakan jari dan kedua tangannya, dibelah menjadi dua bagian, ke kiri dan ke kanan. Kemudian sebelah kiri dibagi dua, setengah diuraikan ke depan. Demikian juga sebelah kanan. Kemudian menangis.

Netty sempat memperagakan. Ia membuka topi dan ikatan rambutnya yang sudah memutih tetapi tampak lebat. Belum sempat ia memperagakan bagaimana gerak si Borunaitang menangis, Netty tiba-tiba mengatakan, "Sudahlah." Lalu ia mengikat kembali rambutnya. "Santabi, Namboru," katanya berkali-kali.

Pohon jabijabi, sejenis beringin, yang kerap diidentikkan dengan Borunaitang itu tumbuh di tepi Danau Toba. Tempat yang berada di jalan Danau Toba itu persis ujung dari Jalan Kejaksaan, Panguruan, Kabupaten Samosir, dikenal dengan sebutan Pantai Tajur. Beringin ini sering dikunjungi orang untuk melakukan ritual. Pemerintah Kabupaten Samosir menatanya sekitar tahun 2007 agar dapat menjadi daya tarik pariwisata. Tapi Pemkab belum mencatat sejarah tempat yang ditata menggunakan dana APBD itu.

Berawal dari keingintahuan serta diskusi dengan beberapa marga Naibaho di Pangururan, termasuk yang di perantaun melalui internet, Koran Toba mencoba menggali cerita tentang tempat itu dari marga-marga yang terkait, yakni Naibaho Siahaan, Naibaho Sidauruk, Naibaho Sitangkaraen, Naibaho Hutaparik, Sitindaon, Sihombing Lumbantoruan keturunan Datu Galapang, dan Marga Sinaga keturunan Raja Ompu Palti. Memang tidak semua mengetahui, bahkan ada yang tidak berani berkomentar karena hanya mengetahui sekilas. Tapi pada dasarnya mereka sangat setuju cerita tentang Borunaitang dicatat oleh pers agar tidak berubah-ubah di masa mendatang.

Inilah beberapa komentar dari sekian banyak narasumber yang menyumbang kisah untuk liputan khusus edisi ini. Amani Siska: "Terima kasih atas usaha penelusuran Koran Toba. Saya merasa bangga atas upaya tersebut. Kiranya penelusuran bisa diteruskan, sehingga kelak bisa menjadi situs budaya dalam menunjang Samosir menjadi pariwisata yang inovatif." Amani Rikky: "Sebetulnya saya tidak bisa menceritakan ini karena masih muda. Namun, karena ini adalah upaya penggalian budaya, maka selayaknya harus diceritakan sebatas yang saya tahu." Oliver Naibaho: "Jika saja cerita ini dimuat 10 atau 20 tahun yang lalu, hasilnya pasti akan lebih bagus, karena masih banyak orang-orang tua yang mengetahuinya secara mendalam."

Supaya menyeluruh dan tidak sepihak, Koran Toba telah wewawancarai semua marga yang berkaitan dengan kisah cinta si Borunaitang dengan saudara kembarnya, Inarnaiborngin, termasuk anaknya, Situnggarnageduk, yang adalah leluhur marga Sitindaon. [www.korantoba.com]

Catatan Redaksi
Berita-berita lain tentang Borunaitang dan foto-foto lokasinya dapat anda simak di edisi cetak Koran Toba yang sudah beredar di Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Parapat, dan Kota Pematangsiantar:
  • Sesajen di jabijabi
  • Garis keturunan Borunaitang
  • Borunaitang bunuh suaminya
  • Hukuman mati di Danau Toba
  • Situnggarnageduk menjadi Sitindaon
  • Inarnaiborngin pergi ke Sipultak
Bila ingin berlangganan, hubungi bagian pemasaran Koran Toba lewat SMS di nomor 08116111785.